Barbar atau Berber? Bangsa Pejuang yang Ditakuti Eropa
ZONA PERANG (zonaperang.com) Suku bangsa Barbar, atau yang dikenal sebagai Berber, adalah salah satu kelompok etnis tertua di Afrika Utara. Mereka mendiami wilayah yang kini menjadi Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mali, hingga bagian barat Mesir dan sebagian Mauritania.
“Apakah benar mereka bangsa yang “biadab” seperti yang dicitrakan oleh Barat? Ataukah ini hanya upaya pihak yang kalah untuk menutupi keperkasaan bangsa ini?”
Nama “Barbar” sendiri berasal dari kata Yunani “barbaros,” yang berarti “asing” atau “tidak beradab.” Namun, istilah ini kemudian diadopsi oleh bangsa Romawi dan Eropa untuk menstigmatisasi mereka sebagai bangsa yang primitif dan biadab. Padahal, kenyataannya, peradaban Barbar justru kaya akan sejarah, budaya, dan kontribusi besar bagi dunia.
Baca juga : Afganistan: Kuburan bagi Bangsa-Bangsa Penjajah
Suku Berber telah menempati wilayah Afrika Utara sejak zaman kuno, jauh sebelum kedatangan bangsa Arab. Mereka dikenal sebagai Amazigh, yang berarti “manusia merdeka” atau “orang bebas.” Kehidupan mereka tersebar dari pegunungan Atlas hingga Sahara, dengan beragam kelompok suku yang memiliki budaya dan bahasa sendiri. Bahasa mereka, Tamazight, adalah salah satu bahasa tertua di dunia yang masih digunakan hingga hari ini.
“Suku Barbar bukanlah entitas tunggal, melainkan sebutan kolektif untuk berbagai kelompok etnis yang mendiami wilayah Afrika Utara. Mereka terdiri dari berbagai suku seperti Berber, Moor, dan lainnya, yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda-beda.”
Dalam sejarah, suku Berber memiliki kerajaan dan pemimpin besar, seperti:
Namun, puncak ketenaran mereka dalam sejarah dunia terjadi pada abad ke-7.
Pada tahun 711 M, seorang jenderal Berber bernama Tariq ibn Ziyad (Thariq bin Ziyad), yang memimpin pasukan Muslim atas perintah Khalifah Umayyah, menyeberangi Selat Gibraltar dan menaklukkan semenanjung Iberia (Spanyol & Portugal) dari tangan kerajaan Visigoth.
Keberhasilannya dalam Pertempuran Guadalete menjadi awal dari lebih dari 700 tahun kekuasaan Islam di wilayah tersebut. Bukit tempat pasukannya mendarat di Spanyol kemudian dikenal sebagai “Jabal Tariq”, yang kini menjadi Gibraltar.
Tariq ibn Ziyad memainkan peran penting dalam pembentukan Kekhalifahan Umayyah di Iberia, yang kemudian dikenal sebagai Andalusia. Penaklukan ini membawa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan budaya di wilayah tersebut.
Namun, meskipun bangsa Berber memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di Afrika Utara dan Eropa, mereka sering kali dipandang sebagai “orang kedua” dalam kekhalifahan, memicu ketidakpuasan yang kemudian menyebabkan lahirnya dinasti Berber seperti:
Baca juga : Al-Malik Baibars: Sultan Mamluk yang Mengalahkan Mongol dan Tentara Salib
Baca juga : Hassan bin Nu‘man ; Juru dobrak Muslim saat hadapi suku barbar di Afrika
Istilah “Barbar” sebenarnya berasal dari bahasa Yunani “Barbaros”, yang digunakan oleh bangsa Yunani dan Romawi untuk menyebut siapa pun yang bukan bagian dari peradaban mereka.
Seiring waktu, kata ini mendapatkan konotasi negatif sebagai sesuatu yang liar, primitif, dan tidak beradab. Ketika Eropa mengalami kekalahan dari kekuatan Islam di Spanyol, mereka mulai menciptakan narasi bahwa bangsa Berber adalah biadab dan ganas, meski faktanya mereka memiliki budaya dan organisasi militer yang sangat maju.
Bahkan di Indonesia, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengartikan “barbar” sebagai sifat yang kasar, kejam, dan tidak beradab, yang mencerminkan bagaimana stigma tersebut menyebar luas. Hal ini menunjukkan bagaimana narasi sejarah sering kali ditulis oleh pihak yang menang, sementara pihak yang kalah dihapus atau distigmatisasi.
Suku Berber memiliki warisan budaya yang kaya dan unik. Mereka dikenal dengan seni, musik, dan tarian tradisional yang berwarna-warni. Bahasa Berber, yang terdiri dari beberapa dialek, diakui sebagai bahasa resmi di beberapa negara Afrika Utara. Selain itu, mereka juga memiliki arsitektur tradisional yang khas dan teknik pertanian yang inovatif.
Pada abad ke-19, ketika Prancis menjajah Afrika Utara, mereka menemukan bahwa orang Berber memiliki kemampuan militer yang luar biasa. Oleh karena itu, mereka banyak direkrut ke dalam pasukan kolonial Prancis, terutama dalam Resimen Zouave dan Pasukan Spahi.
Peran mereka juga sangat besar dalam Perang Dunia I & II, di mana mereka bertempur di berbagai front, dari Eropa hingga Timur Tengah. Meski banyak yang berjuang untuk Prancis, kemerdekaan bagi tanah air mereka tetap menjadi perjuangan yang panjang.
Jenderal Francisco Franco, pemimpin fasis Spanyol, menggunakan ribuan tentara Berber dalam Perang Saudara Spanyol (1936-1939). Mereka menjadi pasukan garis depan dalam upaya Franco merebut kekuasaan dari pemerintahan Republik Spanyol.
Pasukan Berber dikenal keras, disiplin, dan tak kenal takut, membuat mereka menjadi alat perang yang efektif dalam konflik brutal ini. Hal ini menunjukkan bahwa suku Barbar memiliki kemampuan militer yang tidak bisa diremehkan.
Bangsa Berber bukanlah suku primitif seperti yang digambarkan oleh propaganda Barat. Mereka adalah pejuang tangguh, pelaut ulung, pemimpin militer, dan pembangun peradaban yang pernah menguasai sebagian besar Afrika Utara dan Spanyol. Kontribusi mereka dalam sejarah, khususnya di bidang militer dan penyebaran Islam di Eropa, tidak bisa diabaikan.
“Stigma yang melekat pada mereka adalah hasil dari persaingan kekuasaan dan upaya untuk merendahkan peradaban lain. Dengan memahami sejarah suku Barbar secara lebih komprehensif, kita dapat menghindari generalisasi yang keliru dan menghargai keragaman budaya serta peradaban di dunia.”
Hingga hari ini, mereka tetap mempertahankan bahasa dan budaya mereka, terutama di wilayah Maroko dan Aljazair, di mana masih banyak komunitas Berber yang hidup dengan tradisi leluhur mereka.
Sejarah telah membuktikan bahwa mereka bukan bangsa “biadab”, tetapi pahlawan yang terlupakan.
Referensi
Baca juga : Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Zubair, Penakluk Barbar Afrika
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Palestina, perempuan telah memainkan peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai…
Proyek Kuba dan Upaya Rahasia untuk Menaklukkan Komunisme di Belahan Barat Operasi Mongoose, atau Proyek…
Lawan Penindasan! Begini Cara Anda Bisa Membantu Palestina Lima Langkah Konkret untuk Mendukung Palestina dari…
Air Sebagai Senjata: Bagaimana Proyek Anatolia Tenggara Mengubah Dinamika Geopolitik Dari Pembangunan ke Penguasaan: Dampak…
Operasi Swift Retort vs Operasi Bandar: Analisis Pertempuran Udara India-Pakistan Aset IAF tidak berada di…
Pioneering Flight: The Story of Yak-141 and Its Influence on F-35B Development Yak-141: Jet Tempur…