Campur Tangan UEA: Bagaimana Negara Kaya Minyak Ini Memengaruhi Politik Eropa dan Menekan Umat Muslim
ZONA PERANG (zonaperang.com) Uni Emirat Arab selama ini dikenal sebagai negara kaya minyak dengan ambisi global yang besar. Namun, di balik citra mewahnya, Abu Dhabi memainkan peran yang semakin kontroversial dalam urusan internal Eropa, khususnya terkait komunitas Muslim di Barat.
Dengan dalih memerangi ekstremisme, UEA disebut-sebut telah melakukan intervensi politik, propaganda, dan lobi untuk melemahkan pengaruh Islam politik di Eropa serta membentuk persepsi negatif terhadap Muslim di negara-negara Barat.
UEA telah lama memosisikan dirinya sebagai kekuatan kontra terhadap kelompok-kelompok Islam politik, terutama Ikhwanul Muslimin, yang dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas negaranya. Pendekatan ini meluas ke Eropa, di mana UEA menggunakan pengaruh diplomatik dan finansialnya untuk membentuk kebijakan negara-negara Barat terhadap Muslim.
Beberapa metode yang digunakan UEA dalam pengaruhnya di Eropa meliputi:
1. Pendanaan Lembaga dan Media Anti-Islam Politik
UEA diduga mendanai sejumlah think tank, media, dan organisasi yang aktif menyuarakan narasi bahwa Islam politik adalah ancaman bagi Barat. Laporan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa UEA telah mengalirkan dana ke kelompok-kelompok yang secara aktif melobi pemerintah Eropa untuk memperketat pengawasan terhadap organisasi Muslim, terutama yang memiliki keterkaitan dengan Ikhwanul Muslimin.
2. Mendukung Kebijakan Anti-Muslim dengan Dalih Anti-Ekstremisme
UEA sering menggunakan narasi “memerangi ekstremisme” untuk membenarkan tindakannya. Di Eropa, pemerintah UEA telah berkolaborasi dengan politisi dan kelompok sayap kanan untuk mendorong undang-undang yang lebih ketat terhadap masjid, sekolah Islam, dan organisasi Muslim.
3. Memanipulasi Persepsi Publik terhadap Islam di Eropa
Melalui jaringan media globalnya, seperti Al Arabiya dan Sky News Arabia, UEA turut menyebarkan narasi negatif tentang Islam politik di Eropa. Isu-isu seperti radikalisasi, imigrasi Muslim, dan keamanan sering digunakan sebagai alat untuk membangun opini publik yang kurang bersahabat terhadap komunitas Muslim di Barat.
Baca juga : Tepi Barat dalam Cengkeraman Penjajahan Israel: Pemukiman Ilegal dan Penghapusan Palestina
Seperti yang diungkapkan oleh European Investigative Collaborations dalam investigasi Abu Dhabi Secrets, dinas rahasia Uni Emirat Arab (UEA) menyewa Alp Services – sebuah firma Swiss yang mengkhususkan diri dalam kampanye fitnah, menyebarkan disinformasi, dan membuat akun palsu – pada tahun 2017 untuk memata-matai warga negara Eropa, antara lain.
Alp Services secara ilegal membagikan nama ribuan warga negara Eropa lewat dinas rahasia Emirat.
Organisasi, politisi, dan aktivis di 18 negara Eropa menjadi sasaran dan didiskreditkan dengan secara keliru menghubungkan mereka dengan jaringan Islam radikal. Kampanye fitnah ini telah merusak reputasi mereka dan berkontribusi pada ketidakpercayaan publik terhadap Muslim dan Islam.
Sumber: Situs web Parlemen Eropa, https://europarl.europa.eu/doceo/document/P-9-2023-002379_EN.html
Baca seluruh laporan EIC berjudul “Rahasia Abu Dhabi” tentang campur tangan UEA dalam urusan internal Eropa untuk mencoreng kampanye kebencian terhadap Muslim Eropa di sini: https://eic.network/projects/abu-dhabi-secrets.html
Amjad Taha, seorang penyebar kebencian yang berdomisili di UEA, mendedikasikan seluruh waktunya untuk menyerang Islam dan Muslim, dengan fokus pada Muslim Barat.
Dalam wawancara terbarunya, ia menyerukan pendekatan yang kurang demokratis terhadap Muslim di Barat dan menganjurkan penyensoran di luar batas hukum.
Setelah Musim Semi Arab dan pergeseran geopolitik regional, UEA melihat revolusi di Mesir, Tunisia, dan Libya sebagai ancaman. Sebagai tanggapan, Abu Dhabi mengadopsi strategi berbeda untuk menekan gerakan protes.
Ketika gerakan Islamis memperoleh kekuatan dan pengaruh politik, khususnya di Mesir dan Tunisia, UEA memposisikan dirinya sebagai kekuatan utama dalam kontra-revolusi.
Setelah berhasil menghancurkan Musim Semi Arab dengan mendanai milisi panglima perang Haftar di Libya, mendanai kudeta berdarah yang dipimpin oleh Jenderal Sisi di Mesir, dan mengatur pendekatan yang lebih lunak dengan Kais Saied di Tunisia, di mana ia membubarkan parlemen dan mengembalikan negara polisi Ben Ali, UEA sekarang secara aktif mendanai milisi Sudanese armed forces(SAF), yang melakukan pembantaian terhadap warga sipil Sudan setiap hari.
UEA menyadari bahwa umat Islam masih memiliki kebebasan berbicara hanya di Eropa dan Amerika Utara. Bertekad untuk membungkam mereka, UEA menjadikan misinya untuk memerangi suara mereka, melobi untuk sayap kanan di Eropa. Ini menjelaskan mengapa tokoh-tokoh yang berbasis di UEA seperti Amjad Taha sering kali diundang oleh media sayap kanan Eropa.
Yang paling menonjol adalah seorang syekh bernama Faris, yang menyerang setiap gerakan Muslim dalam bahasa Inggris, dan berupaya secara halus untuk mengubah Muslim Barat melawan gerakan Muslim dengan menggunakan agama. Ia aktif di TikTok, YouTube, dan X.
Faris al-Hammadi adalah seorang pembicara motivasi Salafi Emirat, pelatih atletik, dan TikToker. Meskipun populer karena humornya, ia memiliki pandangan mengkritik aktivis demokrasi Saudi, dan – yang kontroversial di antara para pengikutnya – menasihati umat Islam untuk tidak memboikot produk Israel kecuali pemerintah mereka menyuruh mereka melakukannya, yang ditafsirkan oleh beberapa Muslim anti-Zionis sebagai pernyataan bahwa “memboikot produk Israel adalah haram.”
UEA, yang dikenal sebagai sekutu dekat Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, telah menggunakan kekuatan ekonomi dan politiknya untuk mempengaruhi kebijakan di Eropa. Salah satu caranya adalah melalui pendanaan masif kepada kelompok-kelompok think tank, media, dan organisasi-organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan opini publik. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah upaya UEA untuk menargetkan umat Muslim di Barat, khususnya mereka yang kritis terhadap kebijakan pemerintah UEA atau yang dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas regional.
UEA telah dituduh memantau, mengintimidasi, dan bahkan menargetkan aktivis Muslim di Eropa dan Amerika Utara. Laporan-laporan dari berbagai organisasi hak asasi manusia menyebutkan bahwa UEA menggunakan alat-alat seperti peretasan, pengawasan digital, dan bahkan operasi intelijen untuk membungkam suara-suara kritis. Hal ini tidak hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga menciptakan iklim ketakutan di kalangan umat Muslim di Barat.
Pertanyaannya adalah, mengapa UEA melakukan semua ini? Jawabannya mungkin terletak pada ambisi geopolitiknya dan ketidakinginan lepasnya pengaruh rezim dinasti dari tanah arab. Karena UEA ingin menjadi pemain utama di kancah global, dan untuk mencapai tujuan itu, mereka tidak segan-segan menggunakan segala cara, termasuk menekan umat Muslim di Barat dan memengaruhi kebijakan Eropa. Namun, tindakan-tindakan ini justru dapat merusak reputasi UEA di mata dunia internasional, terutama di kalangan negara-negara yang menghargai demokrasi dan hak asasi manusia.
Baca juga : Abdel Fattah el-Sisi: Penjaga Stabilitas Mesir atau Pelayan Kepentingan Asing?
Baca juga : Otoritas Palestina: Alat Zionis atau Pembela Rakyat?
Air Sebagai Senjata: Bagaimana Proyek Anatolia Tenggara Mengubah Dinamika Geopolitik Dari Pembangunan ke Penguasaan: Dampak…
Operasi Swift Retort vs Operasi Bandar: Analisis Pertempuran Udara India-Pakistan Aset IAF tidak berada di…
Pioneering Flight: The Story of Yak-141 and Its Influence on F-35B Development Yak-141: Jet Tempur…
Hotel di Tengah Neraka: Kisah Nyata Hotel Rwanda Hotel Rwanda: Keberanian di Tengah Kekejaman Genosida…
Kisah Pertempuran Sufetula: Kemenangan Muslim atas Bizantium Abdullah ibn Sa'ad dan Kemenangan di Sufetula: Kisah…
Dari Otoritarianisme ke Oligarki: Dinamika Kekuasaan antara Polisi dan Militer Negara-negara di mana kepolisian atau…