- Ketika Drone Lepas Kendali: Pertempuran Palmdale 1956
- Pertempuran Palmdale 1956: Ketika Jet Tempur Gagal Mengalahkan Drone
- Pertempuran Palmdale yang terjadi pada 16 Agustus 1956 adalah salah satu peristiwa unik dalam sejarah penerbangan militer yang menunjukkan tantangan teknologi di era Perang Dingin. Insiden ini melibatkan sebuah drone target Grumman F6F-5K Hellcat yang lepas kendali dan dua jet pencegat Northrop F-89D Scorpion milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).
ZONA PERANG (zonaperang.com) Pada tanggal 16 Agustus 1956, sebuah insiden yang tak terlupakan terjadi di langit California Selatan yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Palmdale. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah drone target Angkatan Laut AS menjadi pusat perhatian dalam pertempuran udara yang tak terduga dengan pesawat jet tempur F-89D Scorpion milik Angkatan Udara AS.
“Berapa banyak roket udara-ke-udara tanpa pemandu yang dibutuhkan untuk menjatuhkan pesawat? Ternyata, jauh lebih banyak dari yang Kita kira! Mari kita bahas tentang Pertempuran Palmdale yang luar biasa pada tahun 1956.”
Target uji coba rudal
Drone F6F-5K Hellcat, yang awalnya dirancang sebagai target uji coba rudal, diluncurkan dari Pangkalan Udara Angkatan Laut Point Mugu dalam misi rutin. Namun, tak lama setelah lepas landas, drone tersebut mengalami malfungsi dan kehilangan kendali. Alih-alih menuju Samudra Pasifik seperti yang direncanakan, drone itu menyimpang ke arah kota Los Angeles, menciptakan potensi ancaman bagi wilayah padat penduduk.
Sebagai respons, Angkatan Laut meminta bantuan Angkatan Udara untuk mencegat drone tersebut. Dua jet pencegat F-89D Scorpion, pencegat paling canggih milik Amerika, bergegas untuk menjatuhkannya pun dikerahkan dari Pangkalan Udara Oxnard untuk menghancurkan drone yang tak terkendali itu sebelum mencapai area sensitif.
Aksi Pengejaran
Cepat, dan dipersenjatai dengan 104 roket FFAR(Folding-Fin Aerial Rocket) masing-masing, F-89 seharusnya dapat dengan cepat mengalahkan Hellcat yang lambat dari era Perang Dunia II. Namun, keadaan tidak berjalan sesuai rencana. F-89 menangkap pesawat tanpa awak di atas Santa Paula dan melepaskan tembakan. Roketnya meleset. F-89 kembali menembak. Roketnya meleset lagi. Roket demi roket melesat di langit; tidak ada satu pun yang mengenai sasaran.
Jet F-89D Scorpion, yang dilengkapi dengan sistem pengendali tembakan Hughes E-6 dan roket tak berpemandu “Mighty Mouse,” menghadapi tantangan besar dalam misi ini. Sistem pengendali otomatis mereka mengalami kegagalan teknis, sehingga para pilot harus beralih ke mode manual untuk menargetkan drone. Namun, tanpa alat bidik senjata yang memadai dan dengan manuver drone yang tidak terduga, upaya mereka menjadi sangat sulit.
Amunisi menipis dan bahan bakar menipis, F-89 berbalik arah. Apa yang terjadi dengan pesawat nirawak yang tidak terkendali itu? Pesawat itu jatuh tanpa cedera di dekat Palmdale. Namun, beberapa dari 208 roket (ya, 208 FFAR 2,75 inci) yang ditembakkan ke arahnya jatuh ke tanah, memicu kebakaran hutan dan menyebabkan kerusakan luas di seluruh wilayah. Itu adalah hari yang memalukan dan merugikan bagi USAF.
Baca juga : Pertempuran Udara di Afrika: Duel Su-27 Ethiopia vs MiG-29 Eritrea
Baca juga : Operation Gothic Serpent: Dari Kesombongan Militer hingga Bencana di Mogadishu
Pertempuran Palmdale 1956: Ketika Drone Nakal Mengacaukan Angkatan Udara Amerika
Pada pagi tanggal 16 Agustus 1956, langit di atas California Selatan menjadi saksi dari salah satu insiden paling memalukan dan aneh dalam sejarah militer Amerika Serikat: Pertempuran Palmdale. Apa yang dimulai sebagai uji coba rutin sebuah drone target Angkatan Laut AS (US Navy) berubah menjadi kekacauan besar yang melibatkan jet tempur canggih, ratusan roket yang meleset, dan kebakaran yang menghanguskan lebih dari 1.000 hektar lahan. Ini adalah kisah tentang sebuah drone nakal bernama Grumman F6F-5K Hellcat dan usaha sia-sia dua pesawat Northrop F-89D Scorpion untuk menjatuhkannya.
Semuanya bermula di Naval Air Station Point Mugu, California, ketika sebuah F6F-5K Hellcat—pesawat tempur legendaris dari Perang Dunia II yang telah diubah menjadi drone target—disiapkan untuk misi terakhirnya. Dicat merah terang untuk memudahkan visibilitas, drone ini lepas landas pada pukul 11:34 pagi, dikendalikan melalui sinyal radio dari darat. Rencananya sederhana: drone akan terbang ke arah Samudra Pasifik, menjadi sasaran uji coba misil udara-ke-udara seperti AIM-7 Sparrow, lalu dihancurkan di tengah laut. Namun, rencana itu segera berantakan.
Tak lama setelah lepas landas, drone kehilangan kontak dengan pengendali darat. Alih-alih menuju ke laut, F6F-5K malah berbelok ke arah tenggara, menuju kota metropolitan Los Angeles yang padat penduduknya. Dalam kepanikan, Angkatan Laut segera menghubungi Pangkalan Udara Oxnard milik Angkatan Udara AS untuk meminta bantuan. Dua jet tempur F-89D Scorpion, pesawat interseptor tercanggih pada masanya, segera dikerahkan untuk mengejar dan menjatuhkan drone yang kini menjadi ancaman nyata.
F-89D Scorpion adalah kebanggaan Angkatan Udara AS pada era Perang Dingin. Dilengkapi dengan 104 roket “Mighty Mouse” berukuran 2,75 inci dan sistem kontrol tembakan Hughes E-6 baru serta radar AN/APG-40 dan komputer AN/APA-84 yang mutakhir, pesawat ini dirancang untuk menghadapi pembom strategis Uni Soviet. Namun, di hari itu, musuhnya bukan pesawat canggih, melainkan sebuah drone tua tanpa awak yang bergerak tak terkendali. Dua kru Scorpion—Letnan Satu Hans Einstein dan C.D. Murray di pesawat pertama, serta Letnan Satu Richard Hurliman dan Walter Hale di pesawat kedua—bergegas mengejar target mereka.
Ketika akhirnya berhasil menyusul drone di ketinggian 30.000 kaki(9 km), masalah baru muncul. Sistem kontrol tembakan otomatis yang seharusnya memandu roket gagal berfungsi. Para pilot terpaksa beralih ke mode manual, tetapi ada kendala lain: pemandu senjata (gunsight) telah dilepas dari pesawat saat sistem E-6 dipasang, meninggalkan mereka tanpa alat bantu untuk membidik. Mereka harus mengarahkan 104 roket per pesawat secara manual, hanya mengandalkan insting dan perkiraan, melawan drone yang terus berputar dan mengubah arah.
Dengan penuh semangat, kedua kru Scorpion menembakkan roket dalam tiga gelombang: 42, 32, dan 30 roket per pesawat. Total 208 roket diluncurkan di atas langit California Selatan. Namun, ajaibnya, tidak satu pun roket yang mengenai F6F-5K. Drone itu terus terbang dengan santai, seolah mengejek usaha mereka. Sementara itu, roket-rocket yang meleset mulai jatuh ke daratan, memicu kekacauan di bawah.
Roket-roket yang gagal mencapai target menyebabkan kerusakan besar. Di Palmdale, sebuah roket menghantam truk dan menghancurkannya, untungnya tepat setelah penumpangnya keluar. Di Placerita Canyon, roket lain memicu kebakaran minyak setelah mengenai fasilitas Indian Oil Company. Fragmen roket beterbangan, menembus jendela rumah warga, dan hampir saja menyebabkan korban jiwa.
Salah satu roket meledak di depan mobil yang dikendarai Larry Kempton dan ibunya, menghancurkan bagian depan kendaraan. Di tempat lain, kebakaran hutan meluas, menghanguskan lebih dari 1.000 hektar lahan dan membutuhkan 500 petugas pemadam kebakaran serta dua hari untuk memadamkannya.
Setelah kehabisan roket dan bahan bakar, kedua Scorpion kembali ke pangkalan dengan tangan hampa. Sementara itu, F6F-5K, yang juga kehabisan bahan bakar, akhirnya jatuh dengan sendirinya di gurun terpencil sekitar 8 mil dari Palmdale, setelah memutuskan tiga kabel listrik Southern California Edison. Anehnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, tetapi kerusakan properti dan rasa malu bagi militer AS sangat besar.
Pertempuran Palmdale menjadi simbol dari kegagalan teknologi canggih melawan sesuatu yang sederhana dan tak terduga. Drone tua tanpa awak itu berhasil “mengalahkan” dua jet tempur mutakhir, mengekspos kelemahan dalam sistem persenjataan dan pelatihan militer AS pada masa itu. Hingga kini, insiden ini dikenang sebagai salah satu momen paling memalukan dalam sejarah Angkatan Udara AS, sekaligus pengingat bahwa bahkan teknologi tercanggih pun bisa gagal dalam situasi yang tak terduga.
Referensi:
- Gero, David. Military Aviation Disasters: Significant Losses Since 1908. Sparkford, UK: Haynes Publishing, 2010.
- “The Battle of Palmdale,” Air & Space Magazine, Smithsonian Institution,
- “When a Drone Went Rogue: The 1956 Palmdale Incident,” Aviation History Online
Baca juga : Samurra Air Battle 1991: Duel Legendaris MiG-25 vs F-15 di Langit Irak
Baca juga : 23 Februari 1942, Bombardment of Ellwood : Saat Pantai Barat Amerika Dibombardir Jepang