PTSD(Post-traumatic stress disorder): Dari Medan Perang ke Kehidupan Sehari-hari
ZONA PERANG(zonaperang.com) Post-Traumatic Stress Disorder adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis, seperti perang, bencana alam, kecelakaan serius, kekerasan, atau pelecehan. Reaksi normal tubuh terhadap trauma adalah memicu respon “fight-or-flight” yang bertujuan untuk melindungi diri.
Namun, bagi mereka yang mengalami PTSD, respons ini berlanjut bahkan setelah ancaman atau peristiwa tersebut berakhir. Hal ini menyebabkan seseorang tetap merasa cemas, waspada, atau terpicu kembali saat mengingat kejadian traumatis itu, meskipun sebenarnya mereka sudah berada di tempat aman.
Trauma memengaruhi otak, khususnya amigdala (pusat pemrosesan emosi) dan hippocampus (bagian yang berfungsi dalam memori). Dalam kasus PTSD, otak gagal memproses trauma tersebut dengan baik, sehingga ingatan akan peristiwa itu terus muncul dan memicu stres berkepanjangan.
“PTSD terjadi karena otak tidak dapat menyelesaikan pengalaman traumatis dengan cara yang normal”
Baca juga : Dari Vietnam ke Gaza: Bagaimana Terowongan Mengubah Jalannya Pertempuran
PTSD bukanlah penyakit baru, namun pemahaman dan pengakuan resmi terhadapnya sebagai gangguan psikologis relatif baru. Kondisi ini telah lama diakui dengan nama-nama yang berbeda. Selama Perang Dunia I dan II, kondisi ini dikenal dengan istilah “shell shock” atau “battle fatigue”, yang lebih difokuskan pada tentara yang mengalami tekanan psikologis akibat perang. Namun, baru pada tahun 1980, PTSD secara resmi diakui oleh American Psychiatric Association (APA) dan dimasukkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-III).
Meskipun demikian, catatan sejarah menunjukkan bahwa gejala serupa dengan PTSD sudah ada sejak zaman kuno, bahkan tercatat dalam tulisan-tulisan tentang perang di Yunani Kuno atau pada masa Perang Saudara Amerika. Ini menunjukkan bahwa PTSD mungkin sudah lama ada, namun hanya mendapatkan istilah dan pemahaman medis baru di era modern.
PTSD terjadi karena interaksi kompleks antara pengalaman traumatis, kepribadian individu, dan faktor-faktor lingkungan. Beberapa teori menyimpulkan bahwa trauma yang intens, riwayat gangguan mental pada keluarga, dan kepribadian yang temperamen dapat meningkatkan risiko terjadinya PTSD.
“PTSD terjadi ketika otak kita mencoba memproses pengalaman traumatis yang sangat intens. Otak kemudian menyimpan ingatan yang kuat tentang peristiwa tersebut, yang dapat memicu reaksi fisik dan emosional yang kuat ketika dipicu oleh pemicu tertentu.”
PTSD dapat dikenali melalui beberapa gejala utama, yang terbagi menjadi empat kelompok:
“Mudah terkejut, insomnia, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan perilaku agresif”
Gejala ini dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hubungan sosial, pekerjaan, dan kesehatan fisik.
Jika tidak ditangani, PTSD dapat sangat mengganggu kualitas hidup seseorang dan berpotensi menyebabkan kondisi kesehatan mental lainnya seperti depresi, kecemasan berlebihan, penyalahgunaan zat, bahkan pikiran untuk bunuh diri. Bahaya utama PTSD adalah dampak psikologisnya yang berkelanjutan, yang dapat menyebabkan penderita merasa tidak mampu menjalani kehidupan normal atau membangun hubungan yang sehat.
“PTSD dapat membahayakan kesejahteraan mental dan fisik penderitanya. Gejala yang kronis dapat mempengaruhi hubungan interpersonal, produktivitas, dan overall kwalitas hidup. Penderita juga berisiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan mental lainnya, seperti depresi dan gangguan kecemasan”
Baca juga : Mengapa Korban Perang di Pihak Israel Terlihat Lebih Sedikit?
Baca juga : 25 Penemuan militer yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari
Penyembuhan PTSD sering kali melibatkan pendekatan gabungan antara terapi dan pengobatan. Beberapa metode utama meliputi:
Setiap orang bereaksi berbeda terhadap terapi, sehingga penting untuk menemukan pendekatan yang paling cocok.
Sejumlah orang terkenal di dunia mengaku pernah mengalami PTSD, terutama mereka yang terlibat dalam konflik atau peristiwa traumatis. Misalnya, penyanyi Lady Gaga pernah berbicara tentang perjuangannya melawan PTSD setelah mengalami serangan kekerasan. Aktor Robin Williams dan komedian Jim Carrey juga diketahui mengalami PTSD yang berasal dari pengalaman hidup yang sulit.
Di kalangan militer, banyak veteran perang yang mengalami PTSD, termasuk Jenderal George Patton yang dikenal karena peristiwa traumatis selama karirnya termasuk Chris Kyle, seorang tentara Amerika yang mengalami PTSD setelah bertugas di Irak.
Banyak peristiwa besar dalam sejarah dunia yang dipengaruhi oleh PTSD. Misalnya, tingkat bunuh diri di kalangan veteran perang sering kali meningkat setelah perang besar seperti Perang Vietnam dan Perang Irak. Dampak trauma pada mereka yang terlibat dalam perang sering kali memicu gelombang masalah sosial yang lebih luas, termasuk kekerasan domestik, penyalahgunaan alkohol, dan meningkatnya angka pengangguran.
Kasus PTSD juga meningkat secara signifikan setelah peristiwa-peristiwa seperti serangan 9/11 di Amerika Serikat atau bencana alam besar, di mana banyak korban dan petugas penyelamat menderita trauma yang mendalam.
Baca juga : Film American Sniper (2014): Kehidupan dan Kisah Gelap di Balik Penembak Jitu Legenda Amerika
Baca juga : Konflik Poso: Luka yang Dalam di Sejarah Indonesia
Jejak Luka Kolonialisme dalam The Battle of Algiers Di antara banyak film sejarah, The Battle…
Serangan Rudal Pertama di Asia Selatan: Kisah Operation Trident Operation Trident, yang dilaksanakan oleh Angkatan…
Shalahuddin dan Dinasti Syi'ah: Kolaborasi atau Konflik? Shalahuddin al-Ayyubi, atau lebih dikenal sebagai Saladin, adalah…
Legenda dari Hutan Salju: Simo Häyhä dan Peperangan Musim Dingin Simo Häyhä, yang lebih dikenal…
Kawasaki P-1: Solusi Canggih untuk Ancaman Maritim Abad ke-21 Kawasaki P-1 adalah pesawat patroli maritim…
Ketika Drone Lepas Kendali: Pertempuran Palmdale 1956 Pertempuran Palmdale 1956: Ketika Jet Tempur Gagal Mengalahkan…