- Kahar Muzakkar: Simbol Perlawanan atau Ancaman Nasional?
- Kahar Muzakkar: Antara Darul Islam dan Republik Indonesia
- Kahar Muzakkar adalah sosok yang kontroversial dalam sejarah Indonesia, dikenal sebagai pemimpin gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan. Ia lahir pada 24 Maret 1921 di Luwu, Sulawesi Selatan, dan merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang terlibat dalam berbagai pergerakan militer. Namun, pandangan terhadapnya bervariasi; ia dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah, sementara banyak pendukungnya melihatnya sebagai pejuang yang memperjuangkan nilai-nilai Islam dan otonomi daerah.
ZONA PERANG (zonaperang.com) Abdul Kahar Muzakkar adalah salah satu tokoh kontroversial dalam sejarah Indonesia. Bagi sebagian orang, ia adalah pemberontak yang menentang pemerintahan Republik Indonesia. Namun, bagi sebagian lainnya, ia adalah pejuang yang memperjuangkan cita-citanya tentang keadilan dan otonomi daerah. Gerakannya, yang dikenal sebagai DI/TII Sulawesi Selatan, menjadi salah satu pemberontakan bersenjata yang berlangsung cukup lama, dari awal 1950-an hingga wafatnya pada tahun 1965.
Latar Belakang Kahar Muzakkar
Lahir pada tahun 1921 di Luwu, Sulawesi Selatan, Kahar Muzakkar sejak muda sudah aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia terlibat dalam berbagai organisasi pemuda dan menjadi bagian dari Tentara Republik Indonesia (TRI) yang berjuang melawan penjajah.
Namun, setelah kemerdekaan, ia merasa bahwa pemerintah pusat tidak memberikan perhatian yang cukup kepada perjuangan rakyat Sulawesi, terutama dalam hal kesejahteraan dan keadilan.
Baca juga : Sejarah Tragedi Tanjung Priok(1984) : Kala Penguasa Menghabisi Umat Islam
Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan
Pada tahun 1950, Kahar Muzakkar awalnya meminta agar pasukan gerilyawan Sulawesi yang telah berjuang dalam revolusi kemerdekaan diakui sebagai bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun, pemerintah pusat menolak tuntutan ini, yang akhirnya mendorong Kahar Muzakkar untuk berbalik melawan pemerintah dan bergabung dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo.
“Usulan Kahar untuk mengintegrasikan pasukan Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) ke dalam TNI ditolak oleh pemerintah pusat, yang membuatnya merasa tidak dihargai”
Gerakan DI/TII Sulawesi Selatan bertujuan untuk menegakkan negara Islam di Indonesia, sejalan dengan perjuangan DI/TII di Jawa Barat. Kahar Muzakkar memimpin pasukannya dalam perang gerilya melawan TNI, dengan memanfaatkan hutan dan pegunungan Sulawesi sebagai basis pertahanannya.
“Gerakan yang dipimpin Kahar Muzakkar berakar dari ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah Soekarno dan bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang karismatik, ahli strategi, dan memiliki banyak pengikut dari berbagai kalangan, termasuk ulama dan petani . Meskipun gerakannya mendapatkan dukungan luas di kalangan masyarakat pedesaan, pemerintah merespons dengan tindakan militer yang keras.”
Akhir dari Perjuangan
Setelah bertahun-tahun berperang melawan pemerintah, Kahar Muzakkar akhirnya wafat dalam operasi militer yang dilakukan oleh TNI pada tahun 1965. Dengan kematiannya, pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan perlahan-lahan meredup, meskipun pengaruh gerakannya masih terasa dalam dinamika sosial-politik di wilayah tersebut.
“Pemberontakan Kahar berlanjut hingga kematiannya pada 3 Februari 1965 dalam Operasi Tumpas yang dilancarkan oleh TNI. Kematian Kahar tetap menyimpan misteri karena makamnya tidak pernah dipublikasikan, menimbulkan spekulasi di kalangan pengikutnya bahwa ia mungkin masih hidup”
Bagian dari sejarah panjang perjuangan
Kahar Muzakkar tetap menjadi figur yang diperdebatkan dalam sejarah Indonesia. Apakah ia pemberontak atau pejuang, sangat bergantung pada perspektif yang digunakan untuk menilainya. Namun, yang pasti, ia adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan dan konflik di Indonesia pasca-kemerdekaan, yang mencerminkan kompleksitas hubungan antara pusat dan daerah dalam membangun negara yang merdeka dan bersatu.
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) adalah sebuah pemberontakan yang bertujuan mendirikan negara Islam di Indonesia. Gerakan ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi menyebar ke beberapa daerah di Indonesia, dengan tokoh-tokoh yang memimpin perlawanan di masing-masing wilayah. Berikut adalah wilayah-wilayah yang menjadi basis perjuangan DI/TII beserta tokoh-tokohnya:
1. Jawa Barat (DI/TII Jawa Barat), Tokoh Utama: Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.
Kartosuwiryo adalah pendiri dan pemimpin utama DI/TII. Ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949. Basis perjuangan DI/TII Jawa Barat meliputi daerah-daerah seperti Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan sekitarnya. Perlawanan DI/TII di Jawa Barat berlangsung hingga tahun 1962, ketika Kartosuwiryo ditangkap dan dihukum mati.
2. Sulawesi Selatan (DI/TII Sulawesi Selatan), Tokoh Utama: Kahar Muzakkar.
Kahar Muzakkar memimpin DI/TII di Sulawesi Selatan setelah bergabung dengan gerakan ini pada tahun 1952. Ia menuntut otonomi daerah dan menentang sentralisasi kekuasaan oleh pemerintah pusat. Perlawanan Kahar Muzakkar berlangsung hingga tahun 1965, ketika ia meninggal dunia dalam operasi militer.
3. Aceh (DI/TII Aceh), Tokoh Utama: Daud Beureueh
Daud Beureueh, seorang ulama dan mantan Gubernur Militer Aceh, memimpin DI/TII di Aceh pada tahun 1953. Perlawanan DI/TII di Aceh dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap pemerintah pusat yang dianggap mengabaikan kepentingan rakyat Aceh. Pemberontakan di Aceh berakhir pada tahun 1962 setelah pemerintah menawarkan otonomi khusus dan amnesti bagi para pemberontak.
4. Kalimantan Selatan (DI/TII Kalimantan Selatan), Tokoh Utama: Ibnu Hadjar
Ibnu Hadjar memimpin DI/TII di Kalimantan Selatan pada tahun 1950-an. Perlawanan DI/TII di Kalimantan Selatan tidak sebesar di Jawa Barat atau Aceh, tetapi tetap menimbulkan ketegangan di wilayah tersebut. Ibnu Hadjar ditangkap pada tahun 1959 dan dihukum mati pada tahun 1962.
5. Jawa Tengah (DI/TII Jawa Tengah), Tokoh Utama: Amir Fatah
Amir Fatah memimpin DI/TII di wilayah Jawa Tengah, terutama di daerah Tegal, Brebes, dan Pekalongan.Ia bergabung dengan DI/TII setelah merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah pusat. Perlawanan DI/TII di Jawa Tengah berakhir pada tahun 1957 setelah Amir Fatah menyerah kepada pemerintah.
6. Jawa Timur (DI/TII Jawa Timur), Tokoh Utama: Mahfudz Siddiq
Mahfudz Siddiq memimpin DI/TII di Jawa Timur, terutama di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Perlawanan DI/TII di Jawa Timur tidak sebesar di wilayah lain, tetapi tetap menimbulkan gangguan keamanan. Mahfudz Siddiq ditangkap pada tahun 1959.
7. Sumatra Selatan (DI/TII Sumatra Selatan), Tokoh Utama: Adnan Kapau Gani
Meskipun tidak sebesar di wilayah lain, DI/TII juga memiliki pengaruh di Sumatra Selatan. Perlawanan DI/TII di Sumatra Selatan lebih bersifat sporadis dan tidak terorganisir dengan baik.
Referensi
- Buku: “Darul Islam: Sebuah Pemberontakan” oleh C. van Dijk
- Buku: “Islam and the State in Indonesia” oleh Bahtiar Effendy
- Buku: “The Emergence of Modern Indonesia” oleh George McTurnan Kahin
- Artikel: “The Darul Islam Movement in West Java: A Historical Perspective” oleh M.C. Ricklefs
- Buku: “Aceh: Sejarah, Budaya, dan Perjuangan” oleh Anthony Reid
- Artikel: “Kahar Muzakkar and the Darul Islam Rebellion in South Sulawesi” oleh Barbara S. Harvey
- Buku: “The Indonesian Military and Politics: The History of the Armed Forces in Indonesia” oleh Harold Crouch
- Buku: “Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia” oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto
Baca juga : Gerakan Aceh Merdeka(GAM) / Free Aceh Movement – Latar belakang, Tokoh, Perkembangan dan Penyelesaiannya
Baca juga : 7 Februari 1989, Peristiwa Talangsari : Pembantaian umat Islam dan pelanggaran HAM berat di Lampung