- Dari Kejayaan Menuju Kehancuran: Kisah Tragis Negara-Negara Gagal
- Ketidakbecusan dan Korupsi: Faktor Penyebab Runtuhnya Negara-Negara Besar
- Fenomena negara gagal bukanlah isapan jempol belaka. Sejarah mencatat banyak negara yang hancur atau bubar karena ketidakbecusan pengelolaan, korupsi yang merajalela, atau kombinasi keduanya. Keruntuhan ini tidak hanya terjadi di era modern, tetapi juga di masa lalu, bahkan ribuan tahun silam.
ZONA PERANG (zonaperang.com) Sejarah telah mencatat berbagai negara yang mengalami kehancuran akibat ketidakbecusan dalam pengelolaan, korupsi yang merajalela, serta ketidakmampuan pemimpinnya dalam menjaga stabilitas. Beberapa negara hancur akibat faktor internal, sementara yang lain runtuh karena kombinasi tekanan eksternal dan kelemahan struktural di dalamnya.
“Sejarah manusia dipenuhi dengan kisah negara-negara yang mencapai puncak kejayaan, hanya untuk runtuh akibat ketidakbecusan pengelolaan, korupsi, dan kebijakan yang buruk. Dari kekaisaran kuno hingga negara modern, kegagalan dalam memimpin dan mengelola sumber daya sering kali menjadi penyebab utama kehancuran.”
Dari kekaisaran kuno hingga negara modern, pola ini berulang: ketika kepercayaan rakyat hilang dan elit tenggelam dalam keserakahan, kehancuran menjadi tak terelakkan. Bahkan ada negara yang, berdasarkan dampaknya, lebih baik bubar daripada bertahan dalam penderitaan abadi.
Dalam tulisan ini, kita akan menelusuri berbagai contoh negara gagal dari berbagai era, serta beberapa negara yang mungkin lebih baik bubar daripada terus bertahan dalam keadaan yang menyedihkan.
Baca juga : Novel Ghost Fleet : Saat Indonesia bubar tahun 2030
Contoh dari Ribuan Tahun Lalu hingga Modern
1. Kekaisaran Romawi Barat (476 M)
Kekaisaran Romawi Barat, yang pernah menguasai Eropa dan Mediterania, runtuh setelah berabad-abad kemegahan. Korupsi di kalangan senator dan pejabat tinggi menggerogoti kas negara, sementara pajak yang membebani rakyat tak lagi cukup untuk membiayai legiun atau mempertahankan perbatasan. Kaisar-kaisar lemah seperti Honorius gagal mengendalikan inflasi dan invasi barbar, sementara elit Romawi sibuk menimbun kekayaan. Pada 476 M, Romulus Augustulus, kaisar terakhir, digulingkan, menandai akhir kekaisaran yang dulu tak tertandingi.
2. Kekhalifahan Abbasiyah (1258 Masehi)
Kekhalifahan Abbasiyah, pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Islam pada abad pertengahan, jatuh setelah lima abad berkuasa. Pada puncaknya, Baghdad adalah kota termegah di dunia, tetapi korupsi di kalangan pejabat dan ketidakmampuan khalifah mengelola wilayah yang luas melemahkan kekhalifahan.
Pada abad ke-13, para gubernur lokal dan panglima militer lebih loyal pada kekuasaan pribadi daripada khalifah, sementara pajak disalahgunakan untuk kemewahan istana. Ketika Mongol di bawah Hulagu Khan menyerbu pada 1258, Baghdad dihancurkan, Khalifah Al-Musta’sim dieksekusi, dan kekhalifahan runtuh—korban dari kelemahan internal yang memudahkan serangan eksternal.
3. Kerajaan Mali
Abad Pertengahan: Kerajaan Mali di Afrika Barat mencapai puncaknya pada abad ke-14 di bawah kepemimpinan Mansa Musa. Namun, setelah kematiannya, ketidakbecusan dalam pengelolaan dan korupsi di kalangan penerusnya menyebabkan kerajaan ini runtuh pada abad ke-15. Perebutan kekuasaan dan lemahnya pengelolaan sumber daya mempercepat kehancuran kerajaan yang pernah makmur ini.
4. Dinasti Ming Tiongkok (1644)
Dinasti Ming, yang berkuasa selama hampir tiga abad, jatuh akibat korupsi endemik dan ketidakmampuan birokrasi. Pada abad ke-17, pejabat tinggi menyalahgunakan pajak untuk kepentingan pribadi, sementara bencana alam dan pemberontakan petani—seperti yang dipimpin Li Zicheng—memperparah situasi. Kaisar Chongzhen, yang terakhir, tak mampu mengendalikan para kasim korup di istananya. Pada 1644, ia bunuh diri saat pemberontak menyerbu Beijing, membuka jalan bagi Dinasti Qing.
5. Kesultanan Ottoman (1299 – 1922)
Kesultanan Ottoman, yang pernah membentang dari Wina hingga Teluk Persia, perlahan merosot sebelum akhirnya bubar pada 1922. Pada abad ke-19, korupsi di kalangan pejabat tinggi dan militer (terutama Janissari) menjadi wabah yang tak terkendali.
Sultan-sultan lemah seperti Selim III dan Abdul Hamid II gagal mereformasi sistem yang bobrok, sementara pendapatan dari pajak dan perdagangan dikorupsi oleh elit. Kekalahan di Perang Dunia I mempercepat keruntuhan, dan pada 1922, Republik Turki modern lahir dari abu Ottoman—sebuah akhir yang tak terhindarkan akibat ratusan tahun mismanajemen.
6. Uni Soviet (1991)
Melompat ke era modern, Uni Soviet adalah raksasa yang runtuh akibat ekonomi yang mismanaj dan korupsi sistemik. Pada 1980-an, birokrasi komunis penuh dengan penyalahgunaan dana negara, sementara rakyat menghadapi kelangkaan makanan dan barang dasar. Reformasi glasnost dan perestroika Mikhail Gorbachev gagal menyelamatkan ekonomi yang sudah terpuruk akibat perencanaan sentral yang buruk dan pengeluaran militer berlebihan di Perang Dingin. Pada 25 Desember 1991, Uni Soviet bubar menjadi 15 negara, mengakhiri eksperimen komunisme terbesar di dunia.
7. Yugoslavia (1990-an)
Yugoslavia, negara Balkan yang dibentuk pasca-Perang Dunia I, hancur pada 1990-an akibat korupsi, nasionalisme, dan kegagalan kepemimpinan. Setelah kematian Josip Broz Tito pada 1980, elit politik di republik-republik seperti Serbia dan Kroasia saling berebut kekuasaan, memperburuk ekonomi yang sudah rapuh. Korupsi merajalela, dan ketegangan etnis memicu perang saudara berdarah. Pada 2003, negara ini sepenuhnya terpecah menjadi tujuh negara independen, meninggalkan luka yang masih terasa hingga kini.
Beberapa ahli berpendapat bahwa bubarnya Yugoslavia justru mencegah konflik yang lebih besar dan memungkinkan negara-negara baru seperti Slovenia dan Kroasia untuk berkembang.
Negara yang Lebih Baik Bubar
Tidak semua negara layak dipertahankan. Ada kasus di mana pembubaran membawa stabilitas dan kemajuan, dibandingkan memperpanjang penderitaan akibat korupsi dan konflik internal. Contohnya adalah Sudan (sebelum pemisahan Sudan Selatan pada 2011).
- Latar Belakang: Sudan dilanda perang saudara berkepanjangan antara utara yang didominasi Arab-Muslim dan selatan yang mayoritas Kristen dan animis. Pemerintah di Khartoum, diwarnai korupsi dan diskriminasi, gagal mengelola kekayaan minyak, malah menggunakan dana untuk memperkaya elit dan mendanai milisi.
- Data: Menurut laporan Bank Dunia, sebelum pemisahan, PDB per kapita Sudan hanya sekitar $500 (2005), dengan 46% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Perang menyebabkan 2 juta kematian dan 4 juta pengungsi.
- Pemisahan: Pada 2011, referendum memisahkan Sudan Selatan. Meski Sudan Selatan kemudian menghadapi konflik internal, pemisahan ini mengakhiri perang langsung dengan utara dan memberi peluang pembangunan terpisah.
- Mengapa Lebih Baik Bubar: Bertahan sebagai satu negara hanya akan memperpanjang genosida dan kemiskinan, sementara pemisahan membuka jalan—walau rapuh—untuk perubahan.
Pertanyaan ini sangat kompleks dan tidak ada jawaban tunggal. Namun, dalam beberapa kasus, perpecahan mungkin menjadi solusi terbaik jika konflik dan ketidakadilan tidak dapat diselesaikan. Contohnya adalah negara Cekoslowakia yang pecah menjadi Republik Ceko dan Slowakia pada tahun 1993 secara damai.
Menurut Indeks Negara Gagal (Fragile States Index), Somalia sering kali menempati peringkat teratas sebagai negara paling gagal di dunia. Beberapa pihak berpendapat bahwa wilayah Somalia mungkin lebih baik jika dipecah menjadi negara-negara kecil yang lebih stabil.
Venezuela, yang pernah menjadi salah satu negara terkaya di Amerika Latin, kini menghadapi krisis ekonomi dan politik yang parah. Korupsi dan ketergantungan pada minyak membuat negara ini kolaps.
Pelajaran dari Reruntuhan
Dari Kekaisaran Romawi Barat hingga Yugoslavia, dari Abbasiyah hingga Ottoman, korupsi dan ketidakmampuan pengelolaan adalah benang merah kehancuran. Romawi jatuh karena elitnya abai pada rakyat, Abbasiyah hancur oleh pengkhianatan internal, Ming roboh akibat keserakahan istana, Ottoman melemah oleh reformasi yang tertunda, Uni Soviet runtuh akibat sistem yang membusuk, dan Yugoslavia terpecah oleh ambisi politik.
Sudan menunjukkan bahwa terkadang bubar adalah jalan keluar dari lingkaran setan. Sejarah berbisik: negara yang gagal memperbaiki diri hanya menunggu waktu untuk roboh—entah oleh musuh atau oleh bobroknya sendiri.
Referensi
- “The Fall of the Roman Empire” oleh Peter Heather (2005)
- “The Venture of Islam, Volume 2: The Expansion of Islam in the Middle Periods” oleh Marshall G.S. Hodgson (1974)
- “The Mongol Conquests in World History” oleh Timothy May (2012)
- The Ming Dynasty: Its Origins and Evolving Institutions” oleh Charles O. Hucker (1978)
- The Ottoman Empire and Early Modern Europe” oleh Daniel Goffman (2002)
- Russia and the Soviet Union: An Historical Introduction” oleh John M. Thompson (2011)
- Yugoslavia: Death of a Nation” oleh Laura Silber dan Allan Little (1997)
- “Sudan: Race, Religion, and Violence” oleh Jok Madut Jok (2007)
- “Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty” oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson.
- “The Looting Machine: Warlords, Oligarchs, Corporations, Smugglers, and the Theft of Africa’s Wealth” oleh Tom Burgis