- Bom Nuklir di Bulan: Kisah Dibalik Proyek A119 yang Kontroversial
- Bom Nuklir di Bulan? Rahasia Kelam Perlombaan Luar Angkasa
- Proyek A119, yang dikenal sebagai Studi Penerbangan Penelitian Bulan, adalah rencana ambisius dan kontroversial yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat pada tahun 1958. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk meledakkan bom nuklir di permukaan Bulan, sebuah langkah yang dirancang untuk menunjukkan kekuatan militer Amerika Serikat dan meningkatkan moral masyarakat domestik setelah Uni Soviet berhasil meluncurkan Sputnik, satelit pertama di dunia.
ZONA PERANG (zonaperang.com) Pada puncak Perang Dingin, ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba-lomba menunjukkan dominasi teknologi dan militer mereka, muncul sebuah rencana yang terdengar seperti skenario film fiksi ilmiah: meledakkan bom nuklir di Bulan.
Rencana ini dikenal sebagai Proyek A119, atau nama resminya, Studi Penerbangan Penelitian Bulan. Dikembangkan pada tahun 1958 oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, tujuan utama proyek ini adalah menciptakan ledakan yang dapat terlihat dari Bumi sebagai simbol kekuatan Amerika dalam perlombaan luar angkasa.
Proyek serupa oleh Uni Soviet (Proyek E-4) juga tidak pernah membuahkan hasil karena kekhawatiran hulu ledak akan jatuh kembali ke wilayah Soviet, dan potensi terjadinya insiden internasional.
Baca juga: CIA, Pramugari Cantik & Proyek Propaganda Film Porno Mirip Soekarno
Baca juga: Samson Option: Rencana Darurat Israel untuk Menekan Lawan dan Mentalitas Penjajah Zionis Yahudi
Ketakutan dan Kompetisi Perang Dingin
Pada akhir 1950-an, Uni Soviet mengejutkan dunia dengan meluncurkan Sputnik 1 (Satellite 1) pada 4 Oktober 1957, satelit buatan manusia pertama yang mengorbit Bumi. Keberhasilan ini menandai awal Perlombaan Luar Angkasa, sebuah persaingan sengit antara AS dan Uni Soviet untuk mendominasi eksplorasi luar angkasa.
Kekalahan awal AS dalam kompetisi ini menciptakan tekanan besar bagi pemerintah dan militer Amerika Serikat untuk merancang langkah spektakuler yang dapat membuktikan keunggulan mereka.
Muncul gagasan bahwa sebuah ledakan nuklir di Bulan dapat memberikan dampak psikologis yang besar, baik bagi rakyat Amerika maupun bagi dunia internasional. Jika ledakan itu cukup terang untuk terlihat dari Bumi, itu akan menjadi demonstrasi kekuatan yang luar biasa dan menunjukkan bahwa AS masih memegang kendali dalam perlombaan teknologi.
Selain itu, para ilmuwan berharap bahwa studi mengenai ledakan nuklir di lingkungan tanpa atmosfer di Bulan akan memberikan wawasan ilmiah yang berharga.
Rincian Proyek A119
Proyek ini berada di bawah pengawasan Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS, dengan melibatkan para ilmuwan terkemuka, termasuk fisikawan muda Carl Sagan, yang kemudian dikenal sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh dalam bidang astronomi dan sains populer. Studi ini mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk dampak ledakan, kemungkinan kontaminasi radioaktif, serta efek visual yang dihasilkan.
Proyek A119 diusulkan oleh Armour Research Foundation, yang sekarang dikenal sebagai Illinois Institute of Technology Research Institute. Proyek ini dipimpin oleh fisikawan Leonard Reiffel, yang mengumpulkan tim ilmuwan dan insinyur untuk mengeksplorasi kelayakan peledakan perangkat nuklir di Bulan.
Rencananya adalah menggunakan hulu ledak nuklir Los Alamos National Laboratory W25, bom berdaya ledak rendah sekitar 1,7 kiloton, yang jauh lebih kecil dibandingkan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima Jepang(sejenis MB-1 “Ding Dong” atau AIR-2 Genie) . Bom ini akan ditembakkan dengan rudal balistik menuju permukaan Bulan, di mana ledakan akan terjadi di tepi terminator—garis pemisah antara siang dan malam di Bulan—agar dapat terlihat dengan jelas dari Bumi.
Baca juga: Ada Gaza dalam Rencana Proyek Terusan Ben Gurion
Baca juga: Tujuh Dosa Sistem Aliansi Amerika-Barat: Melihat Kembali Kebijakan dan Dampaknya yang Menghancurkan
Mengapa Proyek Ini Dibatalkan?
Meskipun gagasan ini terdengar seperti langkah ekstrem untuk mengukuhkan dominasi Amerika, proyek ini akhirnya dibatalkan karena beberapa alasan utama:
- Dampak Ilmiah dan Etis – Ilmuwan yang terlibat, termasuk Carl Sagan, mulai mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari ledakan nuklir di Bulan. Tidak hanya dapat mencemari lingkungan luar angkasa, tetapi juga dapat mempersulit eksplorasi ilmiah di masa depan.
- Risiko yang Tidak Terduga: Para ilmuwan khawatir bahwa ledakan nuklir di Bulan bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga, termasuk potensi kontaminasi radioaktif yang bisa memengaruhi Bumi.
- Risiko Publikasi Negatif – Jika proyek ini diketahui publik, kemungkinan besar akan menimbulkan kemarahan dan kecaman global, terutama dari komunitas ilmiah dan aktivis perdamaian.
- Alternatif yang Lebih Damai – Sebagai gantinya, pemerintah AS memilih untuk berfokus pada program luar angkasa yang lebih bermanfaat, termasuk pengembangan Program Apollo yang akhirnya berhasil mengirim manusia ke Bulan pada tahun 1969.
Meskipun menghadapi tantangan, proyek tersebut melewati beberapa tahap perencanaan dan pengembangan. Namun, seiring dengan Amerika Serikat mulai mencapai tonggak lain dalam eksplorasi luar angkasa, seperti peluncuran sukses Explorer 1 pada Januari 1958 dan pendirian NASA kemudian pada tahun itu, urgensi dan kebutuhan Proyek A119 berkurang.
Pada tahun 1959, proyek tersebut secara resmi dibatalkan, dan keberadaannya tetap sebagian besar tidak diketahui publik hingga beberapa dekade kemudian ketika dokumen-dokumen tersebut dideklasifikasi.
Sejarah yang Nyaris Terjadi
Proyek A119 tetap menjadi salah satu rahasia paling kontroversial dalam sejarah eksplorasi luar angkasa. Jika rencana ini benar-benar terlaksana, dunia mungkin akan melihat dampak yang sangat berbeda dalam arah kebijakan luar angkasa dan sains modern. Untungnya, alih-alih meledakkan Bulan, AS memilih untuk menjejakkan kaki di permukaannya.
“Proyek A119 mungkin terdengar seperti rencana yang gila, tetapi ia mencerminkan semangat zaman itu: sebuah era di mana sains, politik, dan ambisi manusia bertemu dalam pertarungan untuk menguasai langit.”
Hari ini, Proyek A119 menjadi pengingat bahwa dalam upaya untuk mendominasi sains dan teknologi, manusia harus tetap mempertimbangkan konsekuensi moral dan etis dari tindakan mereka. Sebab, penjelajahan luar angkasa seharusnya menjadi pencarian pengetahuan, bukan ajang unjuk kekuatan destruktif.
Referensi
- Smithsonian Magazine – The Air Force’s Project A119
- Jeffrey Richelson, U.S. Nuclear Weapons and the Space Race, National Security Archive (2000).
- David S. F. Portree, Humans to Mars: Fifty Years of Mission Planning, 1950-2000 – NASA History Office (2001)
- “Project A119: The Secret Plan to Nuke the Moon”, David Leonard
- “The Crazy Plan to Explode a Nuclear Bomb on the Moon”, Popular Mechanics
Baca juga: 16 Februari 1943, Operation Gunnerside : Sabotase proyek nuklir Nazi Jerman oleh Sekutu